Category Archives: Jurnalistik

6 Side Job untuk yang Hobi Menulis

Bekerja dari rumah bisa lebih santai. Satu diantara profesinya adalah menulis.
Senin, 11/1/2010 | 09:41 WIB

KOMPAS.com – Butuh tambahan pendapatan karena gaji Anda tak juga bergerak naik? Atau mulai jenuh dengan rutinitas kerja yang 9-to-5? Jika kegelisahan ini mulai hadir dalam kehidupan karir Anda, mungkin ini saatnya untuk mencari pekerjaan sambilan yang memungkinkan untuk Anda lakukan sambil melanjutkan pekerjaan tetap Anda.

Menurut buku 55 Surefire Home Based Businesses You Can Start for Under $5,000, ada banyak peluang usaha bagi yang ingin bekerja dari rumah. Dari 55 peluang bisnis tersebut, jasa penulisan ada di urutan kesebelas. Anda bisa mengerjakan dari rumah, tanpa harus meninggalkan karir Anda yang masih ingin dipertahankan. Jika pun Anda memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebelumnya, dan menjadi pekerja dari rumah, tak perlu khawatir penghasilan akan menurun. Asalkan, Anda dapat memastikan jaringan sudah cukup luas dan bisa menjalin hubungan kerja dengan rekanan untuk rutin mendapatkan proyek tulisan.

Lalu apa saja profesi di bidang penulisan yang bisa dikerjakan dari rumah?
1. Copyediting
Editor banyak dibutuhkan oleh penerbit, media, atau perusahaan yang memiliki divisi penerbitan internal. Kebutuhan editor sebagai freelance pun semakin terbuka lebar. Cukup membawa bahan tulisan yang harus diedit ke rumah, lalu tentukan tenggat waktu yang disepakati bersama, dan Anda pun bebas mengatur waktu kerja asalkan memenuhi target.

2. Ghost writing
Banyak profesional yang punya ilmu khusus, tapi tak memiliki kemampuan menulis. Maka ia membutuhkan seorang penulis buku untuk menuangkan isi pikirannya ke dalam tulisan. Namun penulis buku ini tak dapat mencantumkan namanya sebagai penulis buku tersebut, karena ide dan konsep buku adalah milik profesional yang memiliki proyek tersebut. Nah, penulis buku inilah yang disebut ghost writer.

Tugas Anda termasuk melakukan riset, wawancara, dan menulis sesuai pesanan si pengarang yang namanya tercantum di buku. Memang tidak bisa membuat Anda populer, tetapi baik untuk menjaga relasi dan mengasah skill menulis. Selain itu, anggap saja pekerjaan ini untuk menambah portofolio.

3. Copywriting
Disebut juga sebagai penulisan bisnis. Bentuknya bisa berupa penulisan laporan tahunan pada sebuah perusahaan, atau penulisan untuk promosi produk dan jasa. Tim kreatif dari advertising agency juga mempekerjakan seorang copywriter untuk membuat iklan yang menarik. Meski semua pekerjaan menulis menuntut kreativitas, untuk yang satu ini butuh keahlian khusus.

4. Book writing
Penulisan yang satu ini bisa berasal dari ide dan atau keahlian Anda sendiri, artinya Anda menjual ide ke penerbit. Atau menerima pesanan dari penerbit seperti buku bisnis, interior, keuangan, dan sebagainya. Jadi tak melulu harus memiliki skill khusus secara profesional. Anda bisa mewawancarai profesional untuk kemudian menjadikannya tulisan dalam bentuk media buku.

5. Menulis artikel untuk majalah
Mirip seperti sebelumnya, hanya saja medianya berbeda, yakni majalah. Biasanya editor majalah akan menugaskan apa yang harus Anda tulis, sesuai tema yang ingin disajikan setiap periodenya. Jika Anda punya stok tulisan menarik seperti cerpen atau juga catatan perjalanan, Anda juga bisa menawarkannya pada media. Jika berjodoh, Anda bisa rutin berkontribusi, kan?

6. Web page content provider
Penulis konten website pun butuh skill khusus dalam menulis. Anda bisa menghasilkan uang dari sini. Apalagi media elektronik sudah menjadi pilihan yang menguntungkan di saat kondisi percetakan makin tergusur karena harga kertas yang mahal. Selama internet hidup, selama itulah pekerjaan ini terbuka luas.
C1-10

Editor: din Kompas

Tips Menjadi Wartawan yang Baik dan Benar

Bagian terakhir dari tiga tulisan
[jarar siahaan; batak news; jurnalisme]

Mulai alinea pertama ini: jangan langsung percaya. Sebab, apa yang akan kaubaca selanjutnya adalah kebenaran menurut akalku. Sangat subyektif.

Inilah bagian paling mengasyikkan dari ketiga seri tulisan ini; setelah kemarin, Redaktur bukan tukang gergaji ekor berita, dan kemarinnya lagi, Apa yang seharusnya dipahami seorang reporter.

Seperti biasa, peringatanku agar anda tidak percaya bulat-bulat pada apa yang kutulis juga berlaku di sini; malah makin kutegaskan. Kalau pada dua tulisan sebelumnya [mungkin] masih ada sedikit opiniku yang sesuai dengan teori ilmu jurnalisme, maka pada bagian ini kupikir justru sebaliknya. Ini adalah bagian yang hampir seluruhnya merupakan pendapatku yang sangat subyektif.

Maka sebaiknya anda jangan [mudah] percaya. Jangan pula langsung dipraktikkan. Baca saja dengan santai. Anggaplah ini sebuah hiburan berbentuk cerpen, atau tulisan pada sobekan koran bekas pembungkus ikan asin.

Selamat datang di dunia kata-kata versi Jarar Siahaan.

1. Hubungan dengan narasumber harus dikontrol agar tidak terlalu dekat dan tidak terlalu renggang.

Ini mengarahkan kita menjadi independen. Juga agar tidak diperalat. Menjadi wartawan bukan untuk mencari kawan, juga tidak mencari lawan — tapi mencari berita.

Maka kalau ada wartawan [yang merasa] senior menegur anda, “Sudahlah, ngapain nulis kasus Pak Walikota, kita wartawan ini kan harus menjaga hubungan baik supaya banyak kawan,” jangan terpengaruh. Itu ajaran sesat. Tidak pernah ada dalam kode etik wartawan Indonesia, atau dalam kode etik wartawan di negara hantu belau mana pun, atau dalam mata kuliah jurnalistik, yang menyebutkan profesi wartawan adalah untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya. Ingat: wartawan mencari berita — bukan mencari kawan, juga bukan lawan.

Dalam istilahku, setelah perenungan dan pergumulan batin selama 12 tahun bekerja sebagai jurnalis: “Sesungguhnya wartawan adalah pertapa yang hebat; yang sanggup kesepian di tengah keramaian; karena dia lebih peduli pada APA daripada SIAPA.”

Waktu pilkada Tobasa dua tahun lalu ada tiga dari lima calon bupati yang memintaku menjadi tim sukses. Dua calon menyampaikannya secara langsung dan satu lagi lewat orang terdekatnya. Jabatanku semacam kepala publikasi. Gaji dan fasilitas disediakan. Tapi tidak satu pun yang aku iyakan. Jawabanku untuk mereka sama: “Aku akan tulis kegiatan anda. Kalau mau visi-misi, itu iklan. Kalau mau gratis, lakukan atau ucapkan sesuatu yang menarik dan punya nilai berita.”

Sebagai wartawan, lebih bagus jika anda tidak punya profesi lain. Hindari menjadi pengurus parpol, LSM, apalagi pemborong. “Semakin sedikit predikat yang disandang, semakin baik seorang wartawan menulis,” ujar Katharine Graham, pemilik Washington Post. “Wartawan ya wartawan. Titik,” kata Bambang Soed dari Tempo suatu ketika kepadaku di Medan.

2. Cara terbaik menjadi penulis yang baik adalah: mulai dulu menjadi pembaca yang baik. Usahakan menulis feature setidaknya sekali dua minggu .

Wartawan yang bisa menulis feature sudah pasti “sempurna” menulis berita biasa — yang berpola piramida terbalik. Sebaliknya belum tentu. Berita politik atau berita bisnis tidak dibaca semua orang. Tapi feature, iya. Semisal tulisan kaki halaman satu koran-koran milik Jawa Pos Grup yang terbit setiap hari; semua kalangan pembaca bisa menyukainya.

3. Berita bukan cuma mengenai pejabat, tapi kisah rakyat kecil.

Anda mungkin pernah membaca beberapa tahun lalu sebuah berita feature di halaman depan Kompas. Bukan mengenai Presiden yang bermain dengan cucunya; tapi tentang seorang buruh pabrik sandal yang diadukan ke polisi dengan tuduhan mencuri sepasang sandal. Padahal dia cuma memakai sebentar sandal itu ke mushola untuk sembahyang.

Bayangkan, berita sepele itu muncul di halaman depan koran sebesar Kompas. Dan inilah kelemahan banyak koran daerah: sering menganggap hanya berita tentang gubernur atau bupatilah yang layak di halaman depan; padahal justru kisah-kisah humanis tentang orang-orang kecil itulah yang idealnya diangkat pers ke permukaan. Apakah itu karena wong cilik tak mampu kasih amplop kepada wartawan seperti halnya amplop temu pers pejabat? Tak usah jawab; tersenyum sajalah.

4. Jurnalisme adalah pekerjaan orang-orang kreatif. Anda tidak kreatif? Bulan Juli nanti ada 300 ribu lowongan kerja baru; melamarlah jadi CPNS.

Bagi penulis dan jurnalis, menemukan ide-ide, apalagi orisinal, bagai menemukan harta karun. Perhatikan lingkungan; jangan cuma lihat. Simak pembicaraan orang; jangan hanya dengar. Berpikir kreatif kulakukan dengan berkhayal sebelum tidur di tengah malam; atau ketika jongkok di toilet sambil mengepulkan asap rokok. Bila ide muncul, langsung kucatat di kertas atau laptop.

5. Sebisa mungkin jangan kutip jargon dan retorika pejabat.

Itu gaya pers era Soeharto. Pakai kata khusus; bukan kata umum. Hindari repetisi dan kata-kata berkabut.

Tulislah “Lima penjambret dompet ditangkap dalam perayaan Natal dan sudah dimasukkan ke sel Poltabes Siantar.” Tapi jangan tulis “Sejumlah kriminal diamankan aparat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena melakukan tindak pidana dalam perayaan hari raya Kristen yang suci dan khusyuk.” Kalimat seperti ini kutemukan tiap hari di koran daerah, dan itu membuatku tersenyum geli.

Tak ada salahnya sesekali bereksperimen dengan kosa-kata dan frasa baru. Itu membuat karya anda senantiasa segar dan tidak membosankan. Jangan pernah berpikir akan dipuji sebagai wartawan hebat karena anda menulis istilah-istilah sulit, berbahasa asing, dan ilmiah. Bila anda gemar menyelipkan kata-kata ilmiah pada setiap kalimat dan alinea, cobalah menulis buku pelajaran atau jadi dosen — anda sudah kesasar berprofesi sebagai wartawan.

6. Semakin jarang mengutip sumber anonim, semakin baik.

Semakin berani seorang sumber disebutkan identitasnya, semakin kecil kemungkinan ia berbohong. Aku punya tips pribadi untuk ini. Jika aku mulai curiga si narasumber berbohong, aku langsung mengeluarkan alat perekam atau kamera. Jika memang sedang berbohong, biasanya dia menolak untuk direkam atau difoto, lalu berhenti mengoceh.

7. Wartawan harus berkarakter.

Jangan jadi wartawan kebanyakan. Itu yang selalu kuingat dari Pemred Radar Medan, Choking Susilo Sakeh, saat menarikku dari daerah menjadi redaktur. Maka anda harus jadi wartawan berkarakter. Yang kumaksudkan adalah karakter pada tulisan; bukan penampilan diri, apalagi kalau harus menggondrongkan rambut dan memakai sandal jepit ketika meliput.

Jadikanlah ruang redaksi sebagai tempat bekerja sekaligus belajar. Buatlah pembaca membolak-balik koran hanya untuk mencari tulisan anda. Pendiri Kompas Jacob Oetama mengatakan, setiap wartawan harus menetapkan etika dan standarnya sendiri-sendiri.

Pada 1999 atau 2000 sebuah feature-ku, dengan dua tokoh utama, dibuatkan nama oleh redaktur [waktu itu] Porman Wilson sebagai Jeges dan Roa. Tulisan itu menjadi lebih hidup. “Wajah Sang Bupati dijilat sampai berselemak …,” begitu penambahan dari Porman — yang juga seorang penyair — yang tulisannya memang khas dan berkarakter.

Enam-tujuh tahun terakhir aku sengaja tidak pernah lagi menulis deretan gelar kesarjanaan narasumber, kecuali untuk advertorial. Ini memang terlihat sepele. Tapi aku merasakan efek tak disengaja: aku makin independen dan bisa menjaga jarak dengan sumber-sumber.

Ceklah klipping koran di mana aku pernah bekerja; anda tidak akan menemukan beritaku di mana terdapat, misalnya, gelar St Drs Monang Sitorus SH MBA [Bupati Tobasa]. Aku hanya menulisnya Bupati Monang Sitorus. Koran lain? Wah, paling doyan. Bahkan di setiap alinea, deretan gelar itu diulang hingga ke akhir berita. Ada juga seorang wartawan “senior” di Balige, yang merangkap sebagai politisi, yang menulis kegiatan bupati atau kapolres dengan, “Beliau menjelaskan dengan senyum khasnya ….” Beliau? Presiden SBY saja tak ditulis beliau. Wartawan beginilah yang disebut berkarakter … penjilat.

Soal gelar narasumber tadi, tentu ada pengecualian. Misalnya berita seminar ilmu fisika, kita harus menulis gelar si pembicara agar publik tahu layak tidaknya dia bicara soal fisika. Atau dalam berita walikota yang baru dilantik, tentu bagus menjelaskan apa saja gelarnya untuk pertama kali.

Jangan sesekali menjiplak berita dari wartawan lain, apalagi menjiplak yang sudah terbit. Banyak wartawan tukang jiplak? Karena itulah karya-karyanya tidak berkarakter.

8. Belajarlah memotret.

Berita koran akan lebih menarik jika disertai foto. Meskipun tugas utama reporter adalah menulis, sebaiknya jangan malas memotret. Terkadang sebuah foto yang kuat lebih layak menghabiskan lima kolom koran dibanding berita.

Perhatikan foto-foto lepas di Kompas atau Koran Tempo. Sejak awal menjadi wartawan aku selalu membawa kamera ke mana-mana. Bertahun-tahun aku belajar fotografi dari majalah Foto Media bekas [harganya seribu rupiah] yang kupesankan dibeli teman akrabku, seorang mahasiswa, di simpang kampus USU setiap bulan.

Tiga hal pokok dalam foto jurnalistik adalah momen [waktu terbaik menjepret tombol pembuka rana], angle [posisi kamera], dan komposisi gambar. Foto jurnalistik yang baik tidak selalu harus fokus atau berwarna tajam dan indah. Yang utama ialah: foto itu menjelaskan sesuatu. Katakan seorang reporter menyertakan foto untuk berita rapat pemkab seperti ini: gambar seorang PNS memunguti kertas yang lepas dari tangannya dengan latar bupati sedang berbicara. Jika menjadi redaktur, aku akan memakai foto itu daripada foto close-up si bupati.

9. Jangan menginterogasi; anda bukan polisi.

Tugas wartawan sebatas memberitahu publik apa yang terjadi. Maka jangan memosisikan diri sebagai interogator, jaksa, atau hakim ketika mewawancarai narasumber. Di Balige ada seorang wartawan tua yang terkenal dengan pertanyaannya yang tajam, bahkan sering sampai terkesan kasar. Tapi dia cuma menjadi pejantan tangguh ketika wawancara; kebanyakan hasil wawancara dan liputannya tidak pernah ditulis. Menggertak biar dikasih amplop?

Pakailah bahasa yang santun. Kritis tidak berarti harus kasar. Lebih baik kita terlihat bodoh di depan narasumber daripada konyol di mata pembaca.

Masih di Balige, ada seorang jurnalis muda yang bekerja di sebuah koran Medan beroplah besar, yang dalam wawancara malah lebih sering menyampaikan pernyataan berupa pujian kepada narasumber — bukan pertanyaan. Menjilat biar dikasih amplop?

10. Senjata wartawan yang paling ampuh adalah bertanya.

Amunisi paling tajam adalah kata-tanya “mengapa”. Aku menyadari itu setelah membaca sebuah puisi terjemahan berjudul Jangan pernah membunuh pertanyaan.

11. Akhirnya …, bagaimana dengan amplop?

Jangan pernah meminta. Kalau diberikan, dan anda yakin obyektivitas anda menulis tidak terganggu, terima saja. Tapi kalau amplop itu memengaruhi anda menulis, sebaiknya tunda untuk menerima. Setelah berita terbit dan narasumber anda tetap ingin memberikan, itulah momen yang tepat untuk anda menerima.

Aku pernah mengembalikan uang dari seorang sumber karena dia kecewa berita yang kutulis tidak persis seperti keinginannya. Dia agak marah. Kemudian hari aku tahu, dia sudah terbiasa “memesan berita” kepada wartawan koran lain.

Sikapku ini menjadi “trademark”-ku di kalangan narasumber dan wartawan Balige: bahwa sekalipun Jarar diberi uang, ia tetap akan menulis sekehendak perutnya.

Cara itu aku terapkan selama ini. Kecuali ketika masih aktif di AJI, sama sekali — secara total, dengan alasan apapun — aku menolak amplop. Dan itu sempat membuatku dan anak-istriku menderita — dalam arti sesungguhnya.

“Jarar sudah ‘bertobat’ …,” begitu Pemred Metro Tapanuli, Goldian Purba — yang pernah redpel di Manado Post — menyimpulkan sikapku dalam sebuah rapat di Siantar. [http://www.blogberita.com]

Tulisan terakhir dari tiga bagian ini kusarikan dari draf buku yang tak jadi kuterbitkan. Kalau menurut anda apa yang kutulis benar, silakan dicoba. Tapi kalau anda ragu atau tak sependapat, jangan sesekali menerapkannya; dan teruslah bekerja dengan cara dan gaya anda sendiri.

Sebab, aku setuju, setiap jurnalis memang sebaiknya memiliki standarnya sendiri-sendiri.

Catatan: aku setuju wartawan menerima amplop hanya jika gajinya kecil dan dia yakin amplop tersebut tidak akan memengaruhinya menulis. Tapi jika gaji wartawan sudah layak, aku tidak sependapat jika masih menerima amplop. Alasan-alasanku yang lebih mendalam dan perdebatan seru soal amplop bisa anda baca pada sejumlah tulisan di blog ini; klik ARSIP BATAK NEWS.

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com. [http://www.jararsiahaan.com]

http://ibrani.multiply.com/journal/item/61/tips_menjadi_wartawan_yang_baik

disclaimer: tips ini ditujukan untuk wartawan yang beroperasi di wilayah negara kesatuan repubilk Indonesia. penggunaan di luar wilayah indonesia dapat mengakibatkan dampak yang sebaliknya.

beberapa waktu lalu wapres kita yang terhormat bapak Yusuf Kalla dikutip:

QUTOE:
“The marketing needs a better campaign based on the visitor’s appetite
and segment,” he said at a seminar on tourism promotion to the Middle
East.
“If there are a lot of Middle East tourists traveling to Puncak to seek
janda, I think that it’s OK,” he added, referring to the West Java
mountain resort and using the Indonesian term denoting either widows or
divorcees.
He said the tourists would bring numerous benefits to the women and
their offspring, as well as the country’s entertainment community.
“If the janda get modest homes even if the tourists later leave them, then
it’s OK. The children resulting from these relationships will have good
genes. There will be more television actors and actresses from these
pretty boys and girls,” he said.
Kalla was referring to a common practice in some areas of West Java
and Batam island, where local women engage in short-term relationships
with foreigners, many of them businesspeople from the Middle East,
after taking informal religious vows.
:END of QUOTE

kelihatannya setelah menimbulkan tanggapan negatif beliau langsung mengeluarkan pernyataan yang dilansir

KUTIP:
“Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa wanita Indonesia dipakai (menarik pariwisata) seperti itu. Astaghfirullah, saya baca di satu harian Ibu Kota (berbahasa Inggris), saya sudah duga akan ada reaksi,” katanya di Kantor Wapres Jakarta, Jumat.

Laporan harian Ibu Kota berbahasa Inggris itu mengesankan seolah-olah Jusuf Kalla menyetujui dijadikannya janda-janda di Jawa Barat untuk menjadi daya tarik pariwisata turis dari Timur Tengah.

Wapres meminta agar media massa lebih berhati-hati dan dapat membedakan guyonan yang tidak perlu ditulis.
Apa yang dikatakannya, lanjutnya, justru agar image wanita itu tidak dibawa ke arah seperti itu.

Menurut Wapres, daya tarik pariwisata Indonesia bukan hanya pada masalah gender saja tetapi juga pada produk wisata lainnya.

Wapres mengatakan, kesan yang selama ini muncul adalah obyek wisata Indonesia terlalu mengandalkan daerah Puncak sebagai tujuan wisata, sehingga turis asal Timur Tengah menganggap tujuan wisata di Indonesia hanya Puncak padahal ada Bali, Sumatera, dan berbagai daerah lainnya.
:AKHIR KUTIPAN

dari pengalaman ini aku mau kasih tips untuk teman-teman wartawan

  1. jangan salah kutip dan pahamilah pernyataan pejabat Indonesia sesuai dengan maunya yang bersangkutan dan keadaan. kalian kan tahu kalau pernyataan seperti ini bisa menimbulkan kontroversi jadi tolong dilihat dong konteksnya
  2. jangan salah-paham/salah mengerti… kalian harus sepaham dan sepengertian dengan pejabat supaya tidak terjadi kesalahan. Mengertilah bahwa kadang kala pejabat itu bicara secara gaya bahasa ironis jadi harus dibalik pengertiannya… kadang mereka tidak menyampaikan secara gamblang apa maksudnya atau bahkan menyampaikan sesuatu yang maksudnya berbeda. Jadi dalam kasus-kasus demikian, sadarlah wartawan bahwa pejabat tidak pernah salah-omong atau salah maksud, kalian yang kadang/sering salah mengerti.
  3. kalau pejabat bercanda tertawalah yang keras sekeras-kerasnya tapi jangan ditulis… karena selera humor setiap orang tidak sama ada yang bisa diterima semua orang (secara umum bagus) ada yang tidak bisa diterima banyak orang (bagus hanya menurut golongan tertentu saja)
  4. Fleksibel dooong… kalau ada perubahan konteks tolong disesuaikan buatlah berita yang baru agar berita kalian juga up to date mengikuti perubahan pandangan pejabat. pahamilah bahwa dunia sekarang memasuki era perubahan yang sangat cepat jadi pers pun harus adaptif.

Redaktur Bukan Tukang Gergaji Ekor Berita

Bagian kedua dari tiga tulisan
[jarar siahaan; bataknews; jurnalisme]

Betapa ruginya menggaji redaktur jika hanya untuk memotong ekor berita yang tidak muat di koran.

Sama seperti pada tulisan bagian pertama kemarin, Apa yang seharusnya dipahami seorang reporter, di sini kembali aku mengulangi agar anda jangan percaya bulat-bulat pada tulisan ini. Anda sebaiknya memiliki versi sendiri apa yang seharusnya dikerjakan redaktur. Dan ini adalah versiku.

1. Mengubah angle berita jika ada yang lebih menarik.

Akan percuma seorang redaktur digaji jika hanya untuk mengoreksi pemakaian tanda baca, huruf besar, huruf miring, atau membuang kata-kata mubazir; apalagi kalau hanya memerintah tukang layout, “Potong saja alinea terakhir kalau kolom tak cukup.”

2. Buat judul menarik. Jangan biarkan judul seremonial.

“HUT Proklamasi berlangsung aman dan lancar” hendaknya diubah misalnya menjadi “Veteran dapat kemeja batik pada HUT Proklamasi”.

3. Jangan meloloskan siaran pers bulat-bulat.

Karena besoknya sejumlah koran menulis berita yang sama dan media anda akan ditertawakan pembaca. Ubahlah agar lebih mengalir.

Redaktur harus selalu waspada bahwa humas dan siaran pers adalah alat propaganda. Maka ketika siaran pers yang dikirim menyangkut hal-hal sensitif, contohnya tudingan dari tim sukses calon bupati terhadap lawan politiknya, sebaiknya bahan itu dikembangkan terlebih dulu oleh reporter. Siaran pers rutin seperti seremonial dan informasi belaka [perubahan jadwal pendaftaran CPNS misalnya] tentu layak tanpa harus diverifikasi terlalu jauh.

4. Menyinkronkan judul dengan teras berita.

Untuk melihat contoh berita yang tidak nyambung antara judul dan lead, bacalah koran-koran lainnya, terutama koran daerah. Di sana setiap hari terpampang banyak kesalahan, termasuk kesalahan gramatikal, yang bisa anda coreti dengan stabilo untuk belajar.

5. Perbaiki lead agar pembaca tertarik menyimak alinea selanjutnya.

Ada belasan jenis lead yang bisa dipakai. Lead harus sesingkat mungkin; dalam satu sampai tiga kalimat pendek. Lead atau teras berita atau intro biasanya merupakan satu alinea pertama — tapi kadang bisa dua sampai tiga alinea.

6. Jadikan seluruh teks berita mudah dipahami.

Pakailah kalimat-kalimat pendek dan lugas. Jangan pernah ragu menghapus informasi yang tak jelas dan tidak berhubungan dengan topik berita.

7. Hati-hati iklan terselubung.

Redaktur harus tanggap mengendus berita yang disusupi iklan. Tidak tertutup kemungkinan reporter bekerja sama dengan narasumber untuk mempromosikan dirinya.

Waktu pilkada Tobasa aku beberapa kali menulis visi-misi seorang calon bupati dengan catatan di akhir setiap tulisan: “iklan” atau “advertorial”. Tim sukses calon membayarnya sebagai iklan dan meminta agar kata iklan itu dihapus saja. Tapi aku ngotot karena tidak ingin menipu pembaca. Di saat bersamaan sebuah harian lain menulis hal serupa tentang calon bupati lain, dan diterbitkan setiap hari di halaman depan. Tapi koran itu melacurkan diri. Tulisan berisi visi-misi itu dibuat dalam format berita biasa tanpa menjelaskan itu adalah promosi.

8. Jangan biarkan kutipan langsung terlalu banyak dalam sebuah berita.

Kutipan terbaik adalah kalimat terpendek. Semakin pendek sebuah kutipan, maka efeknya pun makin kuat bagi pembaca.

Selingkan alinea pendek dan alinea panjang agar tidak monoton. Keseluruhan berita harus ditulis secara sistematis dan logis. Buat “jembatan” secara tepat agar antar-alinea tampak nyambung.

9. Bedakan opini dan fakta.

Dua tahun lalu sejumlah koran menulis sebuah berita dari Balige dengan judul yang kira-kira seragam: TPL serobot lahan warga. Hanya aku yang menulis berbeda: Warga adukan TPL serobot lahan. Waktu itu puluhan warga demo ke DPRD. Mereka menuding PT TPL menyerobot lahan mereka. Dalam berita ini, yang disebut fakta adalah: warga mengadu. Sementara penyerobotan lahan bukanlah fakta — kecuali kemudian wartawan punya data lebih dalam.

Tulisan berisi penafsiran [interpretasi] dan opini wartawan wajib mencantumkan nama jelas penulis atau byline — tidak memakai kode/inisial seperti pada berita biasa.

10. Konfirmasi adalah wajib.

Bila reporter hanya sekali mendatangi kantor narasumber dan tidak berhasil konfirmasi, lebih baik beritanya ditunda. Kecuali sudah dicoba berbagai cara, seperti SMS, telepon, datang ke rumah, atau bertanya melalui stafnya. Dan upaya-upaya konfirmasi itu harus dijelaskan dalam berita.

Aku terkesan dengan umpama ini: “Bahkan bila anjing si narasumber itu bisa bicara, tanyakan!” Ini memberi makna yang dalam bahwa seorang wartawan harus berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan konfirmasi.

Sekitar tahun 1999 atau 2000 aku pernah menunggu selama delapan jam untuk mengonfirmasi sebuah berita kepada Bupati Tobasa Sahala Tampubolon. Mulai pagi hingga sore aku duduk di ruang tunggu kantornya. Sejak awal dia bersedia kuwawancarai, tapi memintaku bersabar karena dia masih harus menerima sejumlah tamu. Siang harinya, ketika antrian tamu tak ada lagi, ajudannya berkata bahwa aku masih harus menunggu lagi karena Bupati memiliki setumpuk berkas untuk diteken. Tapi sampai sore hari aku tak juga dibiarkan masuk. Maka ketika sang Bupati keluar ruangannya untuk pulang ke rumah dinas, aku pun berdiri dan menyodorkan alat perekam. Kuwawancarai dia sembari berjalan. Dia menepis alat perekamku dan menjawab: “Itulah kalian wartawan, kerjanya cuma mencari kesalahan. Ya sudah! Terserah kau mau menulis apa. Saya no comment.”

Berita seperti ini tentunya sudah layak terbit. Kalau pun si Bupati di kemudian hari menggugat karena merasa dirugikan oleh pemberitaan yang tidak berimbang, maka itu adalah kesalahan dia sendiri — kenapa tidak memberikan jawaban panjang-lebar, sehingga publik tahu duduk perkaranya.

Redaktur harus jeli mencium gelagat reporter. Ada kalanya reporter punya kepentingan pribadi, seperti ingin memeras, sehingga dia menulis keras perihal kasus seorang pejabat tanpa konfirmasi berimbang dan verifikasi.

Dalam berbagai kasus yang potensial kena delik hukum, biasanya identitas sumber — yang tak berhasil dikonfirmasi — disamarkan.

Perhatikan apakah semua sumber dalam berita sudah diberikan kesempatan sama untuk membela dirinya dari tudingan. Tidak baik membiarkan si A menuding si B sebanyak lima alinea sementara komentar B ditulis hanya satu kalimat pendek — apalagi kalau cuma berisi ucapan “Itu tidak benar.” Ini tidak adil. Terkecuali memang si sumber tidak mau memberi keterangan lengkap. Kita tidak boleh menjadikan kolom koran yang terbatas sebagai alasan untuk mempermalukan orang. Hakim di pengadilan pasti tidak akan membela kita.

11. Berita biasa [straight news/hard news] wajib memenuhi syarat 5W + 1H dan piramida terbalik. Tapi perlakukan feature secara berbeda.

Maka pindahkan semakin ke atas bila ada informasi yang penting di bagian bawah laporan reporter. Dengan begitu pracetak tidak ragu untuk langsung memotong alinea-alinea terakhir jika kolom tidak cukup, tanpa harus merusak jalan cerita pada berita.

Pengecualian untuk karangan khas seperti feature, esai, maupun artikel opini. Umumnya feature akan rusak jika ada alinea yang dihapus. Satu kata atau tanda titik tiga sangat bermakna dalam tulisan jenis ini. Maka jika harus dipotong juga, sebuah feature harus dibaca dulu secara keseluruhan, dan dengan penuh pemahaman, oleh redaktur.

Kolom yang terbatas bisa diakali dengan ekonomi kata. Pengurangan atau penambahan pada feature oleh redaktur tidak boleh mengubah gaya yang dipakai penulis aslinya — dalam hal ini reporter. Kalau memang ingin, ubahlah gaya penulisannya sejak awal hingga akhir.

Ada tiga bagian pada feature yang harus sangat menarik, dan bila perlu unik. Yaitu judul, teras, dan penutup. Judul feature tidak harus nyambung dengan teras seperti pada berita biasa. Rumus 5W + 1H juga tidak harus selalu lengkap.

12. Hindari eufemisme, hiperbola, bias/distorsi, stereotip, dan standar ganda.

Pemerintah segera menyesuaikan harga BBM adalah eufemisme — seharusnya menaikkan harga. Aksi bakar dua ban bekas oleh demonstran ditulis sebagai mencekam adalah berlebihan atau hiperbola. Ketika kapolsek menyebut unjuk rasa petani sebagai melanggar aturan — karena tidak ada pemberitahuan keramaian — dan anda malah menyoroti soal izin demo itu, maka beritanya terdistorsi. Menyebut orang Batak kasar atau WNI keturunan Tionghoa sebagai picik dan pelit adalah stereotip. Menulis “Butet, gadis desa yang memang sering berpakaian seksi itu, digauli tiga lelaki” dan “Ani, anak Pak Camat, diperkosa secara sadis oleh seorang pria hidung belang yang suka mabuk” adalah tidak adil karena memakai standar berbeda untuk kasus sama.

13. Pilih headline dengan tepat.

Ada kalanya siaran pers lebih layak jadi berita utama dibanding penangkapan pengisap ganja oleh polisi. Contohnya siaran pers pemkab soal lowongan tenaga guru honorer.

14. Redaktur yang baik mencatat setiap kata bersinonim dan mirip.

Dan atas kesepakatan sidang redaksi, dipilih satu kata yang akan dipakai seterusnya. Misalnya seorang reporter menulis “istri” dan reporter lain memilih “isteri”. Kalau redaktur membiarkannya, pembaca akan bingung ketika melihat judul dua berita di koran anda; yang satu memakai istri dan berita lain memakai isteri.

Semua hal di atas kutulis berdasarkan pengalamanku sebagai redaktur di salah satu koran milik Jawa Pos Grup pada 2001 di Medan. Sekali lagi: jangan percaya begitu saja. Gali dan kembangkanlah gaya anda sendiri; baik sebagai redaktur maupun reporter. [http://www.blogberita.com]

Tulisan bagian kedua ini kukutip dari draf bukuku yang tidak jadi kuterbitkan. Besok bagian ketiga atau terakhir: Tips menjadi wartawan yang baik dan benar.

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com.

Apa yang Seharusnya Dipahami Seorang Reporter

Bagian pertama dari tiga tulisan
[jarar siahaan; bataknews; jurnalisme]

Wartawan yang mencari berita di lapangan, reporter, adalah ujung tombak media. Di tangan reporterlah, sesungguhnya, bagus-tidaknya sebuah berita ditentukan; bukan oleh redaktur.

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian, dan ini adalah bagian pertama, yang akan kumunculkan di blog ini secara berturut dalam tiga hari. Artikel ini jangan dianggap sebagai teori atau rumus pasti. Ini hanya pendapat pribadiku berdasarkan pengalaman 12 tahun menjadi wartawan koran. Jadi bagi wartawan lain bisa saja apa yang kutulis di sini tidak benar.

Sekali lagi, harap anda jangan menelan bulat-bulat apa yang kutulis ini. Apalagi aku cuma wartawan tamatan SMA yang belajar jurnalisme secara otodidak; jadi sangat mungkin apa yang kuungkapkan di sini berbeda dengan “ilmu jurnalisme yang resmi” seperti terdapat pada diktat kuliah.

Inilah poin-poin penting yang menurutku seharusnya dipahami seorang reporter dalam menjalankan tugasnya.

1) Jangan pernah berbohong.

Ini yang paling utama menurutku. Nasib koran sesungguhnya berada di ujung pena reporter; baru kemudian redaktur. Ibaratnya: reporter adalah pemain bola yang bisa mencetak gol ke gawang lawan atau juga bikin gol bunuh diri, sementara redaktur adalah wasit.

Pengadilan menunggu kita setiap saat. Jangan karena diberi amplop atau berteman dekat dengan narasumber, anda menggelembungkan fakta 100 orang demo menjadi ribuan orang. Atau menulis “warga diduga dipersulit staf Camat bikin KTP” padahal sebenarnya anda tahu yang terjadi adalah “Camat minta Rp 100 ribu agar mau neken KTP”. Redaktur tidak akan tahu kebohongan seperti ini. Juga jangan pelesetkan ucapan narasumber.

Aku punya pengalaman tentang bersikap jujur. Dua tahun lalu sebuah laporanku menjadi berita utama halaman depan harian Metro Tapanuli. Ceritanya mengenai penyampaian visi-misi lima calon Bupati Tobasa di DPRD. Judul yang kubuat tidak diubah sama sekali: Massa Basar demo, Dewan walk out. Massa dan anggota dewan dimaksud adalah lawan politik kandidat Monang Sitorus — yang akhirnya terpilih sebagai bupati. Besoknya hanya di Metro peristiwa itu terbit sesuai fakta, apa adanya. Bahkan belasan koran lain yang berseberangan dengan Sitorus tidak menulis selugas itu. Aku tahu berita itu sangat memukul kubu Sitorus. Apalagi [mungkin anda tidak percaya] edisi itu dipesan seribu eksemplar oleh tim suksesnya. Mungkin juga anda masih takkan percaya, saat itu sudah 30-an juta uang mereka yang masuk ke koran tempatku bekerja lewat iklan dan order koran. Tapi aku berprinsip: berita harus kupisahkan dari iklan.

Meskipun pers juga adalah lembaga bisnis — selain lembaga demokrasi — tidak berarti wartawannya legal melakukan trade-out [memberitakan iklan], apalagi sampai memutar-balikkan fakta. Pagar api [tanda yang memisahkan/ membedakan berita dan iklan] harus menjadi kesepakatan ruang redaksi dan perusahaan media.

Jujur dan mendengarkan hati nurani adalah jauh lebih utama daripada sekadar menguasai teknik jurnalistik. Fakta adalah suci. Jika anda terbiasa memerkosa fakta, segeralah beralih profesi.

2) Tentukan angle berita sejak masih meliput di lapangan.

Banyak wartawan berpikir bahwa sudut pandang berita baru perlu saat hendak menulis. Ini keliru.

Tahun-tahun pertama jadi wartawan, aku sering bergumam di depan mesin ketik: “Angle begini lebih menarik, tapi kok aku kekurangan bahan ya ….” Maka ketika dalam melakukan reportase atau wawancara anda menemukan hal yang lebih menarik daripada angle awal, galilah kembali mulai dari situ. Bukan dosa bila anda lari dari angle yang ditugaskan redaksi. Disiplin jurnalisme berbeda dengan militerisme.

3) Dalam wawancara jangan menjebak narasumber dengan “meminjam mulut”.

Kecuali anda menulis untuk “koran kuning”. Biasakan memakai pertanyaan terbuka, sehingga jawaban bisa lebih beragam dan luas. Pertanyaan tertutup — yang hanya butuh jawaban ya atau tidak — baru efektif dipakai dalam liputan investigasi [saat data akurat sudah di tangan dan kita hanya ingin "menangkap tersangka"].

4) Patuhi etika. Hargai off the record.

Ada kalanya anda sedang bergunjing di kedai kopi dan sumber-sumber melontarkan pernyataan menarik. Suatu hari anda mengingat obrolan itu lalu mengutipnya ke dalam berita. Anda bisa digugat. Seharusnya anda menghubungi kembali narasumber dan meminta izin bagian-bagian mana dari ucapannya yang akan anda kutip. Jika dia tidak bersedia, anda pun harus berhenti menulis.

5) Catatlah suasana saat melakukan reportase dan wawancara. Hal-hal sepele membuat tulisan lebih manusiawi.

Dalam sebuah berita seremonial, yaitu penyerahan kendaraan dinas kepala desa, aku menulis: Bupati sempat menghidupkan dan mengecek speedometer ke-15 sepedamotor itu satu per satu. “Saya cek dulu, benar nggak ini baru. Oh …, iya, benar,” ujarnya.

Jason, seorang wartawan di Kota Siantar, mengaku menerapkan apa yang pernah kubilang saat dia mewawancarai Marim Purba di penjara Desember dua tahun lalu. “Aku gambarkan bagaimana dia mengisap rokok, istrinya pakai baju apa …,” kata Jason.

6) Arsipkan semua klipping berita dan bahan mentah berita anda. Selalu jelaskan ulang latar belakang sebuah masalah jika anda menulis berita lanjutannya. Redaktur dan pembaca tidak akan ingat apa yang anda tulis sepekan lalu.

7) Jangan hanya mengandalkan bahan siaran pers. Jangan hanya mendengar jika bisa menyaksikan langsung.

Kisah nyata berikut ini, yang kukutip dari sebuah buku jurnalistik tua [aku lupa judul buku itu] bisa jadi pelajaran berharga.

Seorang wartawan pemula di Amerika Serikat ditugaskan meliput kotbah Minggu malam. Karena pada jam bersamaan terlanjur ada janji kencan dengan pacarnya, dia meminta naskah kotbah sang pendeta. Dia pun merasa tak perlu lagi hadir di gereja untuk meliput. Berita diketik dan diserahkan kepada redaktur Senin pagi.

“Berita yang bagus. Lead-nya juga menarik. Tapi …, bagaimana dengan kebakaran …,” kata Redaktur Kota, datar dan lembut.

“Kebakaran?”

“Gereja itu hangus terbakar sebelum kebaktian dimulai,” ujar Redaktur, kali ini tidak lagi lembut. “Dan tidak ada khotbah!” [http://www.blogberita.com]

Tulisan ini merupakan bagian dari draf bukuku yang tak jadi kuterbitkan. Bersambung besok: Redaktur bukan tukang gergaji ekor berita.

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com.

Situs Pers

  1. http://www.lpds.or.id/jurnalistik.php?module=home

Panduan Bagi Redaktur

Oleh TD Asmadi

Redaktur, Editor, Penyunting.

Redaktur – bahasa Belanda/Prancis – Redacteur: Orang yang menangani bidang redaksi (KBBI)

Editor – bahasa Latin edere (e = keluar + dare = memberi). Edere berarti menjulang, menyembul, memberitahukan, atau menerbitkan.

Penyunting – ‘sunting’ = hiasan rambut, seperti bunga, kembang goyang (bunga tiruan, umumnya dari logam, yang bergoyang-goyang), tusuk konde, dan lain-lain. Suntingan membuat rambut menjadi mahkota bagi wanita.
- Penyunting bertugas memperindah naskah.

Bedakan dengan istilah editor pada bahasa Inggris. Media Barat memiliki copy-editor, selain editor/redaktur.

Di Inggris/AS yang menjadi editor biasanya tidak memeriksa dan menurunkan naskah. Yang melakukan tugas pemeriksaan/ penurunan adalah copy editor.

Jabatan copy editor ini merupakan jenjang tersendiri dan paling mempunyai peluang untuk menduduki posisi tertinggi di struktur organisasi rekdaksi.

Floyd K. Baskette mengibaratkan redaktur sebagai pengasah intan yang menghaluskan, menggosok, menghilangkan cacat, dan membentuk batu menjadi permata.

Warren K. Agee, penulis buku dan profesor bidang jurnalisme, lebih tinggi lagi menilainya. Redaktur itu hati nurani surat kabar, katanya. (KBBI: hati nurani adalah hati yang telah mendapat cahaya Tuhan atau perasaan hati yang murni dan yang sedalam-dalamnya)

Marjorie Paxson, seorang penerbit di Amerika Serikat, menggambarkan redaktur sebagai orang yang tahu tata bahasa, ejaan, punya perhatian kepada hal yang detail, dan perfeksionis. Seorang yang dapat mengerjakan tugas rutin tanpa bosan, yang menggunakan kreativitas dan imajinasinya untuk mengimbangi kerutinan. Orang yang berpengetahuan luas dan berpikir cepat. Dia juga kaya inisiatif, hati-hati, cerdas, dan memahami tugasnya.

Redaktur itu memang jantung yang menentukan hidup dan mati media massa. Jantung pada manusia letaknya tersembunyi dan besarnya hanya sekepal. Memompa darah 70�80 kali setiap menit. Mengubah darah kotor menjadi darah bersih. Menyalurkan makanan, oksigen, dan zat lainnya bagi miliaran sel yang tersebar di seluruh tubuh.

Nama seorang redaktur tidak pernah muncul dalam sebuah tulisan seorang wartawan. Betapapun banyaknya perbaikan dan penambahan yang dilakukan seorang redaktur, tetap nama orang lain yang muncul.

Seorang redaktur, perlu memiliki keterampilan teknis dan kecendekiawanan

Seorang redaktur harus menjadi spesialis dalam bidang yang ditanganinya
Seorang redaktur juga harus menjadi manajer.
Seorang redkatur juga harus menjadi guru/pendidik

Tiga bidang tugas redaktur:
A. Manajemen, meliputi:
- keuangan
- kekompakan tim
- penilaian/rekomendasi kerja reporter
- promosi
- penempatan/mutasi
B. Pendidikan, meliputi:
- pelaksanaan etika profesi
- manajemen organisasi
- keterampilan jurnalistik, riset,
- dengan memberi contoh yang baik
C. Editorial, meliputi a.l.:
- perencanaan isi
- pembagian tugas
- penetapan tugas lapangan
- penetapan tugas riset
- pembuatan tulisan
- editing

Yang tak tidak kalah penting: bersinergi dengan bidang lain (iklan, promosi, sirkulasi/distribusi),
- Semuanya untuk kemajuan media agar diperoleh keuangan yang mandiri.

Redaktur sebagai pendidik:
� Membimbing saat mencari bahan
� Membimbing saat menulis berita
� Mengembangkan kepercayaan diri reporter
� Mengembangkan kekuatan dan menghilangkan kekurangan reporter
� Membimbing agar reporter independen
� Membimbing agar berani mengambil risiko
- Pembimbingan dilakukan dengan tanya jawab dan dengan lebih banyak mendengar

Berbagai pertanyaan yang perlu diajukan kepada reporter:
� Apa sih yang ingin diketahui pembaca?
� Bagaimana sih caranya agar pembaca jelas?
� Tulisan Anda ini tentang apa sih?
� Sudahkan menemukan fokus tulisan?
� Kutipan langsung mana yang paling bagus?
� Siapa tokoh yang paling menarik dalam tulisan Anda?
� Sudah memikirkan bagaimana akhir tulisan?
� Bagaimana sih Anda mengetahui hal itu?
� Seperti apa sih kisahnya?
� Apa yang terjadi?

Seorang redaktur perlu memahami:
- Perilaku pembaca/audiens
* hubungan dengan berita televisi
* soal kebiasaan pembaca yang selalu berubah
* yang mereka inginkan dari media kita
* dll
- Konsep tentang berita:
* jika semua media elektronik sudah memberitakan, apa yang akan kita sampaikan kepada pembaca esok harinya?
* bagaimana menyusun berita?
– piramida terbalik tunggal sudah tidak memadai lagi, karena sudah �dimakan� media elektronik.
– kini: sebuah tulisan terdiri dari banyak piramida terbalik yang saling mengait.

Masalah yang paling penting bagi seorang redaktur adalah bukan kapan dia harus mengubah sebuah tulisan, tetapi mengapa dia harus melakukan itu.

Pekerjaan seorang redaktur separuh bersifat keilmuan, setengahnya lagi bersifat seni.

Akurasi dan beberapa bagian bahasa merupakan ilmu, karena ada ukuran benar atau salahnya.

Tetapi pilihan kata untuk sebuah pernyataan, atau peristiwa serta kapan untuk membuang atau menambah sebuah tulisan adalah sebuah pekerjaan seni.

Dalam tugas keredaksian, posisi seorang redaktur ada di tengah pintu. Di dalam ada segerombolan reporter yang menjadi tanggung jawabnya dan di luar ada beribu-ribu pembaca. Semuanya ingin dipuaskan oleh kerja redaktur.

Redaktur bukan hanya mengerjakan tugas keredaksian, tetapi juga manajeman: membagi reporter ke mana bertugas, kapan memuji dan kapan menghardik, mengamati rajin-tidaknya anak buah, mengusulkan kenaikan gaji dll.

Redaktur juga seorang teman bagi reporter. Dia tahu setiap saat kondisi reporter. Dia paham keluarganya dan gaya hidupnya. Dia perlu memahami kelakuan reporter.

Redaktur juga seorang guru. Dia membimbing reporter agar mencari fakta lebih banyak, mencari narasumber yang tepat, membuka literatur yang sepadan. Dia juga memberi saran dan pedoman bagaimana menulis lebih baik.

Dalam menyunting sebuah tulisan, dia melakukannya dengan membaca sedikitnya tiga kali:
1. Membaca keseluruhan sebagai seorang pembaca biasa.
2. Membaca sambil memperbaiki semua kekurangan, sebagai seorang redaktur.
3. Membaca lagi untuk mengetahui bagaimana tanggapan diri sendiri tentang tulisan yang baru saja perbaiki.

Penyuntingan
1. Membaca tulisan untuk klarifikasi bahasa dan makna tulisan sekaligus menulis kembali jika diperlukan
2. Memperpendek tulisan dengan tetap menjaga agar esensi dan kepaduannya
3. Memadukan satu tulisan dengan lainnya atau dengan tulisan yang sedang masuk dari kantor berita, koresponden, dan wartawan untuk menghasilkan satu tulisan yang padu dari berbagai sumber yang kadang bertentangan.
4. Menjaga agar tulisan tetap ‘masuk’ dalam ruangan yang tersedia.
5. Mengecek bahasa dan gaya media yang ditanganinya
6. Mengecek soal-soal fakta: adakah yang keliru.
7. Mengecek adakah kesalahan legal
8. Mengecek ‘rasa’ seluruh tulisan.
9. Menambah fakta penting dan menghindarkan adanya pertanyaan yang tak terjawab
10. Membuat judul sehingga menarik pembaca sekaligus juga membuat subjudul jika diperlukan

Nilai dari seorang redaktur (Paula Ellis dari The State di Columbia, AS)
* Memandang ke depan sebuah tulisan: apa pengaruhnya bagi masyarakat atau orang per orang.
* Bentuk tulisan terbaik: bercerita
* Tidak terpaku pada satu bentuk tulisan, termasuk yang dinilai baku pada media itu.
* Berbagi peran dalam mengembangkan tulisan
* Memahami reporter
* Sifat kritis yang tidak sembarangan
* Tanamkan nilai-nilai yang Anda kehendaki pada reporter.
* Evaluasi pada kinerja reporter.
* Membangun kepercayaan diri reporteer.
* Membangun kebersamaan.
* Menempuh risiko
* Jaga diri sendiri juga

Redaktur memahami benar visi dan misi serta kemudian karakter medianya. Dia harus selalu berpedoman pada hal itu dalam tugas sehari-harinya.

Oleh karena itu juga, seorang redaktur kini harus bersinergi dengan bagian lain, misalnya promosi, iklan, dan bisanis pada umumnya. Karya yang keluar dari sebuah perusahaan media adalah hasil kerja sama semua bidang.

10 Sifat yang Perlu Dimiliki Redaktur
(Anne Glover, St. Petersburg Times)
1. Semangat bekerja (Passion for the work)
2. Memiliki pengetahuan dasar yang memadai (A solid education in the basics)
3. Pengalaman (Experience)
4. Kreativitas (Creativity)
5. Pengetahuan umum yang luas (Knowledge of the Times)
6. Memiliki keyakinan (Convictions)
7. Sikap luwes dan menyadari kenyataan (Flexibility and a sense of reality)
8. Perhatian kepada detail (Attention to detail)
9. Rasa ingin tahu yang besar (Curiosity)
10. Akal sehat (Common sense)

Konsekuensi Tugas Redaktur
1. Tenang, meski tegang. Redaktur bekerja dalam suasana tegang dan tergesa-gesa. Namun, dalam keadaan demikian dia dituntut untuk sanggup tetap tenang.
2. Sabar dan bugar. Pekerjaan mengedit itu membosankan. Duduk berjam-jam di ruang tertutup. Mata terus-menerus menatap monitor. Ini mengundang banyak penyakit (mata, pencernaan, stres, dll.). Acap kali juga gemas karena yang ditulis oleh wartawan jauh dari harapannya. Redaktur dituntut untuk sabar dan tetap bugar.
3. Kerja sama. Penerbitan pers adalah produk kerja sama. Oleh sebab itu, redaktur harus pandai-pandai menjalin kerja sama bukan hanya di selingkup redaksi, melainkan juga dengan bagian iklan, pemasaran, promosi, dan lain-lain.
4. Berilmu dan berpengalaman. Seseorang diangkat sebagai redaktur karena luas wawasan, dalam pengetahuan, dan banyak pengalamannya.
5. Berjiwa pendidik. Redaktur berkewajiban membimbing wartawan. Oleh karena itu, ia harus berjiwa pendidik. Mendidik adalah mentransfer ilmu dan mengubah perilaku, kebiasaan, dan kepribadian. Misalnya, mengubah kebiasaan wartawan yang umumnya bekerja tanpa perencanaan, baik dalam mencari bahan tulisan maupun ketika membuat tulisan.
6. Mencintai bahasa. Sebagian besar pekerjaan mengedit itu memperbaiki bahasa. Konsekuensinya redaktur harus mencintai bahasa dan mahir berbahasa.
7. Kreatif dan kaya inisiatif. Bisnis media adalah jasa melayani masyarakat. Masyarakat itu dinamis. Redaktur harus selalu memantau masalah yang sedang berkembang, yang sedang digemari, dan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Untuk itu diperlukan redaktur yang kaya inisiatif dan kreatif.

Perlengkapan Redaktur
1. Agenda
2. Daftar alamat, termasuk e-mail
3. Telepon seluler
4. Kamus Inggris�Indonesia
5. Kamus Indonesia�Indonesia
6. Kamus sinonim
7. Kamus bahasa daerah
8. Buku Pengindonesiaan Istilah Asing
9. Buku panduan (style book)
10. Buku pintar
11. Ensiklopedi
12. Buku tata bahasa
13. Buku ejaan
14. Peta, termasuk peta kota
15. Kata-kata mutiara
16. Data base
17. Kliping surat kabar, tabloid, majalah
18. Dan lain-lain.

Bahan-bahan:
1. Coaching Writers, Editors and Reporters Working Together (Roy Peter Clark dan Don Fry)
2. The Art of Editing (Floyd K. Baskette, Jack Z. Sissors, Brian S. Brooks)
3. The Copy Editing and Headline Handbook (Barbara G. Ellis Ph.D)
4. Redaktur itu Jantung Surat Kabar (Makalah Maskun Iskandar)

TD Asmadi adalah pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo

Pengantar ke Peliputan Investigatif (Investigative Reporting)

Apakah yang dimaksud dengan pelaporan investigatif (investigative reporting)? Secara sederhana, peliputan investigatif adalah praktik jurnalisme, yang menggunakan metode investigasi dalam mencari informasi.

Karakter dari berita investigatif adalah: (1) merupakan produk kerja asli jurnalis bersangkutan, bukan hasil investigasi dari sebuah instansi pemerintah atau nonpemerintah; (2) mengandung informasi yang tidak akan terungkap tanpa usaha si jurnalis; dan (3) berkaitan dengan kepentingan publik.[1]

Dari mana munculnya jurnalisme investigatif ini? Di Amerika Serikat, istilah investigative reporting tampaknya mulai populer pada tahun 1975, ketika di Columbia didirikan Investigative Reporters and Editors Inc. Namun, bicara tentang sejarah kemunculan jurnalisme investigatif, tampaknya harus dimulai dari kemunculan apa yang dinamakan muckraking journalism.

Muckraking journalists adalah julukan yang diberikan pada jurnalis Amerika, yang menggunakan suratkabar tempat ia bekerja sebagai sarana untuk menggugat ketidakadilan, mengungkap kesewenang-wenangan (abuses), dan menyebarkan informasi tentang berbagai penyimpangan yang terjadi kepada masyarakat umum.[1]

Istilah ini dipopulerkan pada akhir 1800-an, ketika sejumlah jurnalis Amerika mulai mengambil jarak dari bentuk pelaporan berita peristiwa biasa. Sebagai gantinya, mereka mulai melakukan investigasi dan menulis tentang tokoh dan organisasi ternama. Dengan semangat untuk mengungkap korupsi di kalangan bisnis dan politik, para jurnalis ini membantu meningkatkan kesadaran publik terhadap berbagai penyakit sosial, ekonomi, dan politik.

Pengertian “jurnalis” dalam konteks muckraking journalists di sini tidak terbatas pada reporter suratkabar, seperti yang kita kenal sekarang, tetapi juga mencakup novelis dan kritikus.

Karya para jurnalis ini akhirnya menghasilkan sejumlah reformasi dan perubahan legislatif. Artikel-artikel mereka di majalah, pada awal 1900-an, mengungkapkan praktik-praktik korupsi di beberapa sektor bisnis dan perusahaan asuransi jiwa. Hal itu mendorong terwujudnya tindakan-tindakan yang krusial terhadap undang-undang bahan makanan murni dan peraturan antimonopoli. Artikel-artikel tersebut bisa dibilang telah mengubah peran jurnalis dalam masyarakat.

Para jurnalis ini menyelidiki dan mengungkap isu-isu sosial, seperti kondisi di permukiman kumuh, penjara, pabrik, rumah sakit jiwa, pertambangan, bengkel kerja, buruh anak, dan kondisi yang tidak bersih di pabrik-pabrik pengolahan makanan. Muckraking journalists sering menulis tentang orang yang menjadi miskin akibat ketidakberesan sistem sosial, dan menggugat lembaga-lembaga yang sudah mapan dalam masyarakat.

Tak jarang, gugatan itu diekspresikan dengan cara sensasional. Tidak heran jika mereka dituding sebagai kaum sosialis, bahkan komunis. Pada awal 1900-an, mereka mengangkat isu-isu sosial itu dengan menulis buku dan artikel di majalah populer dan suratkabar, seperti Cosmopolitan, The Independent, dan McClure’s.

McClure’s atau McClure’s Magazine adalah majalah bulanan Amerika, yang populer pada peralihan abad ke-20. Didirikan oleh S.S. McClure dan John Sanborn Phillips pada 1893, majalah ini dianggap sebagai pencipta muckraking journalism.

Di majalah ini, pada tahun 1902, muncul rangkaian laporan karya Ida Tarbell, yang menyingkap kesewenang-wenangan praktik monopoli perusahaan minyak Standard Oil Company, milik John D. Rockefeller. Juga, muncul karya Ray Stannard Baker, yang membuat masyarakat menyorot keras perilaku perusahaan United States Steel Corporation. Majalah McClure’s ini bisa dibilang telah membantu membentuk “kompas moral” pada zamannya.[3]

Sebutan muckraker kini juga ditujukan pada jurnalis masa sekarang, yang mengikuti tradisi lama tersebut. Mereka sekarang meliput topik-topik seperti: klaim-klaim yang bersifat penipuan dari perusahaan pembuat obat berpaten; perbudakan zaman modern; prostitusi anak; pornografi anak; dan peredaran narkoba.

Beberapa contoh dari jurnalis muckraker kontemporer adalah:[4]

•·Wayne Barrett, jurnalis investigatif, redaktur senior the Village Voice. Ia menulis tentang perilaku Rudy Giuliani sebagai Walikota New York City, dalam bukunya Grand Illusion: The Untold Story of Rudy Giuliani and 9/11 (2006).

•·Amy Goodman, jurnalis, host di radio Pacifica Network, dengan programnya yang dinamai Democracy Now!

•·Seymour Hersh, jurnalis yang terkenal dengan laporannya tentang pembantaian My Lai (era Perang Vietnam), program senjata nuklir Israel, profil Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger, invasi Amerika ke Irak tahun 2003, dan penyiksaan terhadap para tahanan Irak oleh tentara AS di penjara Abu Ghraib.

•·Michael Moore, pembuat film dokumenter, sutradara film Roger and Me, Bowling for Columbine, Fahrenheit 911, dan SiCKO

•·John Pilger, koresponden perang yang sudah memenangkan berbagai penghargaan, pembuat film, dan pengarang buku.

•·Bob Woodward dan Carl Bernstein, jurnalis suratkabar Washington Post, yang mengungkap skandal Watergate; pengarang buku All the President’s Men, yang menceritakan rincian pengungkapan skandal itu.

•· Dan lain-lain, yang tak bisa disebutkan satu-persatu.

Di Indonesia, yang dianggap menjadi pelopor jurnalisme investigatif adalah Suratkabar Indonesia Raya, di bawah pimpinan Mochtar Lubis. Antara tahun 1969 sampai 1972, suratkabar itu gencar membongkar kasus-kasus korupsi di perusahaan minyak negara, Pertamina.

Pada periode 1990-an, majalah dwi-mingguan Tajuk memposisikan diri sebagai majalah investigasi. Sedangkan majalah berita mingguan Tempo, sesudah sempat dibreidel oleh rezim Soeharto pada 21 Juni 1994, juga memunculkan rubrik khusus investigasi, ketika majalah itu terbit lagi pada 1998.[5]

Tiga Bentuk Jurnalisme Investigatif

Sesudah praktik jurnalisme investigatif semakin matang, ada beberapa bentuknya yang dapat kita kenali. Menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, setidaknya ada tiga bentuk yang bisa kita bedakan. Yaitu: pelaporan investigatif orisinal, pelaporan investigatif interpretatif, dan pelaporan terhadap investigasi.[6]

Pelaporan investigatif orisinal (original investigative reporting):

Pelaporan investigatif orisinal melibatkan reporter itu sendiri dalam mengungkap dan mendokumentasikan berbagai aktivitas subjek, yang sebelumnya tidak diketahui oleh publik. Ini merupakan bentuk pelaporan investigatif, yang sering berujung pada investigasi publik secara resmi, tentang subjek atau aktivitas yang semula diselidiki dan diungkap oleh jurnalis. Ini adalah contoh klasik, di mana pers mendesak lembaga publik (pemerintah), atas nama publik.

Dalam melakukan investigasi, jurnalis mungkin menggunakan taktik-taktik yang mirip dengan kerja polisi. Seperti, penggunaan tenaga informan, pemeriksaan catatan/data publik, bahkan –dalam situasi tertentu– pemantauan aktivitas dengan sembunyi-sembunyi dan penggunaan penyamaran.

Dalam pelaporan investigatif orisinal di era modern sekarang, kekuatan analisis komputer sering menggantikan observasi personal para reporter.

Pelaporan investigatif interpretatif (interpretative investigative reporting):

Jenis pelaporan investigatif interpretatif juga menggunakan keterampilan yang sama, seperti pada pelaporan investigatif orisinal, namun menempatkan interpretasi (penafsiran) pada tingkatan yang berbeda.

Perbedaan mendasar antara keduanya adalah, pada pelaporan investigatif orisinal, si jurnalis mengungkapkan informasi, yang belum pernah dikumpulkan oleh pihak lain manapun. Tujuannya adalah memberitahu publik tentang peristiwa atau situasi, yang mungkin akan mempengaruhi kehidupan mereka.

Sedangkan, pelaporan interpretatif berkembang sebagai hasil dari pemikiran dan analisis yang cermat, terhadap gagasan serta pengejaran fakta-fakta yang diikuti, untuk memadukan semua informasi itu dalam konteks yang baru dan lebih lengkap. Dengan cara ini, diharapkan bisa memberi pemahaman yang lebih mendalam pada publik.

Pelaporan interpretatif ini biasanya melibatkan seperangkat fakta dan isu-isu yang lebih kompleks, ketimbang sekadar pengungkapan biasa. Pelaporan interpretatif ini menyajikan cara pandang yang baru terhadap sesuatu, serta informasi baru tentangnya.

Pelaporan terhadap investigasi (reporting on investigations):

Pelaporan terhadap investigasi adalah perkembangan terbaru dari jurnalisme investigatif, yang semakin biasa dilakukan. Dalam hal ini, pelaporan berkembang dari temuan awal atau bocoran informasi, dari sebuah penyelidikan resmi yang sudah berlangsung atau yang sedang dipersiapkan oleh pihak lain, biasanya oleh badan-badan pemerintah.

Pelaporan terhadap investigasi bisa terjadi, manakala penyelidik resmi sedang bekerja. Penyelidik dari pihak pemerintah bekerjasama secara aktif dengan jurnalis pada kasus-kasus tertentu, karena sejumlah alasan. Seperti: untuk mempengaruhi anggaran derma (dari negara bagian)[7], untuk mempengaruhi saksi-saksi potensial, atau untuk membentuk opini publik.

Contohnya, sebagian besar dari pelaporan tentang perselingkuhan Presiden Bill Clinton dengan Monica Lewinsky sebenarnya adalah hasil investigasi, yang dilakukan kantor Penuntut Independen Kenneth Star, ditambah dengan informasi tandingan yang dibocorkan oleh pihak Gedung Putih atau para pengacara terkait.

Bandingkan dengan pelaporan investigatif skandal Watergate pada 1972, yang dilakukan jurnalis Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein. Sebagian besar hasil penyelidikan kasus tersebut, khususnya pada bulan-bulan awal yang kritis, adalah murni hasil kerja investigatif orisinal para jurnalis.

Mereka bicara langsung pada para narasumber utama tentang apa yang terjadi, bukan bicara pada tim penyidik resmi tentang apa yang mereka teorikan sudah terjadi. Skandal Watergate[8] ini kemudian berujung pada jatuhnya pemerintahan Presiden Richard Nixon.

Seorang jurnalis investigatif mungkin menghabiskan waktu yang cukup lama untuk riset dan menyiapkan laporannya, kadang-kadang bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Sementara reporter harian atau mingguan biasa menuliskan berita-berita yang bisa dimuat segera. Laporan akhir seorang jurnalis investigatif biasanya berupa suatu pengungkapan kasus.

Langkah-langkah investigasi ini sering menuntut si reporter untuk melakukan banyak wawancara terhadap berbagai sumber, serta bepergian ke banyak lokasi. Tak jarang, reporter juga harus melakukan aktivitas seperti: pengintaian, analisis dokumen, menyelidiki kinerja peralatan yang terkait dengan suatu kecelakaan, dan sebagainya.

Jurnalisme investigatif menuntut kecermatan dalam detail (rincian), penemuan fakta, dan upaya fisik. Seorang jurnalis investigatif harus memiliki pikiran yang analitis dan tajam, dengan motivasi diri yang kuat untuk terus berupaya, ketika semua pintu informasi ditutup, ketika fakta-fakta dikaburkan atau dipalsukan, dan seterusnya.

Beberapa cara yang bisa digunakan jurnalis untuk menemukan fakta:

•· Mempelajari sumber-sumber yang sering diabaikan, seperti arsip, rekaman pembicaraan telepon, buku alamat, catatan pajak, dan perizinan.

•· Bicara kepada warga di lingkungan sekitar.

•· Menggunakan sumber riset berlangganan (di internet).

•· Sumber-sumber anonim. Misalnya, orang dalam yang membocorkan informasi (whistleblowers).

•· Melakukan penyamaran.

Jurnalisme investigatif dapat dibedakan dengan pelaporan analitis (analytical reporting). Jurnalisme analitis memanfaatkan data yang tersedia dan mengatur ulang data tersebut, sehingga membantu kita dalam mempertanyakan suatu situasi atau pernyataan, atau memandangnya dengan cara yang berbeda. Sedangkan, jurnalis investigatif bergerak lebih jauh dari sekadar pelaporan analitis, serta ingin mengetahui apakah situasi yang dihadapkan pada kita itu adalah benar-benar realitas.

Jurnalisme investigatif juga dapat dibedakan dengan pelaporan mendalam (indepth reporting). Indepth reporting merupakan suatu laporan mendalam terhadap suatu obyek liputan, biasanya yang menyangkut kepentingan publik, agar publik betul-betul memahami obyek tersebut.

Namun, berbeda dengan peliputan investigatif, indepth reporting tidak memfokuskan diri pada penyingkapan suatu kejahatan, kesalahan, penyimpangan, atau kejahatan tersembunyi, yang dilakukan pihak tertentu. Sifat indepth reporting lebih pada memberi penjelasan pada publik. Sementara proses pencarian informasinya sendiri juga tidak menuntut dilakukannya investigasi, karena boleh jadi informasi itu bersifat terbuka dan mudah diakses.

Sedangkan pelaporan investigatif berasumsi bahwa ada sesuatu yang salah, atau ada suatu pihak yang telah berbuat salah. Kesalahan yang sengaja disembunyikan atau belum terkuak itulah yang menjadi target peliputan investigatif.

Jakarta, Mei 2008


[1] Dikutip secara bebas dari Gaines, William C., 2007. Laporan Investigasi untuk Media Cetak dan Siaran. Jakarta: ISAI & Kedutaan Besar Amerika Serikat, hlm. 1.

[2] Uraian tentang muckraking journalism di sini banyak mengutip dari situs http://www.enotes.com/history-fact-finder/culture-recreation/what-muckraking-journalism

[3] Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/McClure’s

[4] Dikutip dari http://en.wikipedia.org/wiki/Muckraker

[5] Pada saat artikel ini ditulis (Mei 2008), majalah Tempo sesekali masih menampilkan laporan investigatif. Tetapi, rubrik investigasi ini tidak selalu hadir pada setiap edisi penerbitan.

[6] Uraian lengkap tentang tiga bentuk jurnalisme investigatif ini bisa dilihat di Kovach, Bill, & Tom Rosenstiel (2001). The Elements of Journalism. What Newspeople Should Know and the Public Should Expect. New York: Crown Publishers. Hlm. 116-120.

[7] Ini harus dipahami dalam konteks Amerika Serikat, di mana otoritas negara bagian membiayai suatu penyelidikan kasus korupsi atau penyimpangan tertentu, yang diduga melibatkan pejabat setempat.

[8] Dalam kasus ini, Nixon yang berasal dari Partai Republik, terbukti menyalahgunakan kekuasaannya dengan memerintahkan pembantu-pembantunya, untuk melakukan penyadapan ilegal terhadap kantor Partai Demokrat. Laporan investigasi yang gemilang ini membuahkan penghargaan jurnalistik bergengsi, Pulitzer, untuk Woodward dan Bernstein. ***

Pengantar Ilmu Jurnalistik

Oleh: Dian Amalia

1. Pengertian Jurnalistik
Definisi jurnalistik sangat banyak. Namun pada hakekatnya sama, para tokoh komuniikasi atau tokoh jurnalistik mendefinisikan berbeda-beda. Jurnalistik secara harfiah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day) atau “catatan harian” (diary). Dalam bahasa Belanda journalistiek artinya penyiaran catatan harian.

Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa. Jurnalistik adalah seperangkat atau suatu alat madia massa. Pengertian jurnalistik dari berbagai literature dapat dikaji definisi jurnalistik yang jumlahnya begitu banyak. Namun jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia. Apapun yang terjadi baik peristiwa factual (fact) atau pendapat seseorang (opini), untuk menjadi sebuah berita kepada khalayak.

Jurnalistik adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaopran setiap hari. Jadi jurnalistik bukan pers, bukan media massa. Menurut kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis surat kabar, majalah, atau berkala lainnya.

Untuk lebih jelasnya apa yang dimaksud dengan jurnalistik, dibawah ini adalah definisi dari para tokoh tentang jurnalistik seperti yang di rangkum oleh Kasman dalam bukunya bahwa jurnalistik adalah:

F. Fraser Bond dalam bukunya An Introduction to Journalism menyatakan: “Journalism ambraces all the forms in which and trough wich the news and moment on the news reach the public”. Jurnalistik adalah segala bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati.

M. Djen Amar, jurnalistik adalah usaha memproduksi kata-kata dan gambar-gambar yang dihubungkan dengan proses transfer ide atau gagasan dengan bentuk suara, inilah cikal bakal makna jurnalistik sederhana. Pengertian menurut Amar juga dijelaskan pada Sumadiria. Jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berita kepada khalayak seluas-luasnya.

M. Ridwan, adalah suatu kepandaian praktis mengumpulkan, mengedit berita untuki pemberitaan dalam surat kabar, majalah, atau terbitan terbitan berkala lainnya. Selain bersifat ketrampilan praktis, jurnalistik merupakan seni.

Onong U. Effendi, jurnalistik adalah teknik mengelola berita sejak dari mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskannya kepada khalayak. Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif saja.

Adinegoro, jurnalistik adalah semacam kepandaian karang-mengarang yang pokoknya memberi perkabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya. Sedang menurut Summanang, mengutarakan lebih singkat lagi, jurnalistik adalah segala sesuatu yang menyangkut kewartawanan.

Dalam buku Jurnalistik Indonesia karya Sumadiria juga mengungkapkan pengertian beberapa tokoh antara lain; F.Fraser Bond, Roland E. Wolseley, Adinegoro, Astrid S. Susanto, Onong U. Effendi, Djen Amar, Erik Hodgins, Kustadi Suhandang, dan bahkan penulis itu sendir Haris Sumadiria.

Roland E. Wolseley dalam Understanding Magazines (1969:3), jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran.

Astrid S. Susanto, jurnalistik adalah kegiatan pencatatan dan atau pelaporan serta penyebaran tentang kejadian sehari-hari.

Erik Hodgins (Redaktur Majalah Time), jurnalistik adalah pengiriman informasi dari sini ke sana dengan benar, seksama, dan cepat, dalam rangka membela kebenaran dan keadilan.

Haris Sumadiria, pengertian secara teknis, jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya.

Dalam buku Kustadi Suhandang, juga terdapa satu pakar lagi yang mendefinisikan pengertian jurnalistik, yaitu A.W. Widjaya, menyebutkan bahwa jurnalistik merupakan suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasannya mengenai berbagai peritiwaatau kejadian sehari-hari yang aktualdan factual dalam waktu yang secepat-cepatnya.

Sedang menurut Kustadi Suhandang sendiri Kustadi, jurnalistik adalah seni atau ketrampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya.

Menurut A.Muis dan Edwin Emery yaitu; A.Muis (pakar hukum komunikasi) mengatakan bahwa definisi tentang jurnalistik cukup banyak. Namun dari definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan secara umum. Semua definisi juranlistik memasukan unsur media massa, penulisan berita, dan waktu yang tertentu (aktualitas). Menurut Edwin Emery juga sama mengatakan dalam jurnalistik selalu harus ada unsur kesegaran waktu (timeliness atau aktualitas). Dan Emery menambahkan bahwa seorang jurnalis memiliki dua fungsi utama. Pertama, fungsi jurnalis adalah melaporkan berita. Kedua, membuat interpretasi dan memberikan pendapat yang didasarkan pada beritanya.

Menurut Ensiklopedi Indonesia, jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari (pada hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran dan pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.

Sumadiria juga menambahkan bahwa jurnalistik dalam Leksikon Komunikasi dirumuskan, jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, menyunting dan menyebarkan berita dan karangan utuk surat kabar, majalah, dan media massa lainnya seperti radio dan televisi.

2. Ruang Lingkup Jurnalistik

Ruang lingkup jurnalistik sama saja dengan ruang lingkup pers. Dalam garis besar jurnalistik Palapah dan Syamsudin dalam diktat membagi ruang lingkup jurnalistik ke dalam dua bagian, yaitu : news dan views (Diktat “Dasar-dasar Jurnalistik”).

News dapat dibagi menjadi menjadi dua bagian besar, yaitu :

1. Stainght news, yang terdiri dari :

a. Matter of fact news

b. Interpretative report

c. Reportage

2. Feature news, yang terdiri dari :

a. Human interest features

b. Historical features

c. Biographical and persomality features

d. Travel features

e. Scientifict features

Views dapat dibagi kedalam beberapa bagian yaitu :

1. Editorial

2. Special article

3. Colomum

4. Feature article

3. Sejarah Jurnalistik

Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif saja. Itu terbukti pada Acta Diurna sebagai produk jurnalistik pertama pada zaman Romawi Kuno, ketika kaisar Julius Caesar berkuasa.

Sekilas tentang pengertian dan perkembangan jurnalistik, Assegaff sedikit menceritakan sedikit sejarah. Bahwa jurnalistik berasal dari kata Acta Diurna, yang terbit di zaman Romawi, dimana berita-berita dan pengumuman ditempelkanatau dipasang di pusat kota yang di kala itu disebut Forum Romanum. Namun asal kata jurnalistik adalah “Journal” atau “Du jour” yang berarti hari, di mana segala berita atau warta sehari itu termuat dalam lembaran tercetak. Karena kemajuan teknologi dan ditemukannyapencetakan surat kabar dengan system silinder (rotasi), maka istilah “pers muncul”, sehingga orang lalu mensenadakan istilah “jurnalistik” dengan “pers”.

Sejarah yang pasti tentang jurnalistik tidak begitu jelas sumbernya, namun yang pasti jurnaliatik pada dasarnya sama yaitu diartikan sebagai laporan. Dan dari pengertian ada beberapa versi. Kalau dalam dari sejarah Islam cikal bakal jurnalistik yang pertama kali didunia adalah pada zaman Nabi Nuh.

Suhandang dalam bukunya juga menerangkan sejarah Nabi Nuh teerutama dalam menyinggung tentang kejurnalistikan. Dikisahkan bahwa pada waktu itu sebelum Allah SWT menurunkan banjir yang sangat hebatkepada kaum yang kafir, maka datanglah maiakat utusan Allah SWT kepada Nabi Nuh agar ia memberitahukan cara membuat kapal sampai selesai. Kapal yang akan dibuatnya sebagai alat untuk evakuasi Nabi Nuh beserta sanak keluarganya, seluruh pengikutnya yang shaleh dan segala macam hewan masing-masing satu pasang. Tidak lama kamudian, seusainya Nabi Nuh membuat kapal, hujan lebat pun turun berhari-hari tiada hentinya. Demikian pula angin dan badai tiada henti, menghancurkan segala apa yang ada di dunia kecuali kapal Nabi Nuh. Dunia pun dengan cepat menjadi lautan yang sangat besar dan luas. Saat itu Nabi Nuh bersama oranng-orang yang beriman lainnya dan hewan-hewan itu telah naik kapal, dan berlayar dengan selamat diatas gelombang lautan banjir yang sangat dahsyat.

Hari larut berganti malam, hingga hari berganti hari, minggu berganti minggu. Namun air tetap menggenang dalam, seakan-akan tidak berubah sejak semula. Sementara itu Nabi Nuh beserta lainnya yang ada dikapal mulai khawatir dan gelisah karena persediaan makanan mulai menipis. Masing-masing penumpang pun mulai bertanya-tanya, apakah air bah itu memang tyidak berubah atau bagaimana? Hanya kepastian tentang hal itu saja rupanya yang bisa menetramkan karisuan hati mereka. Dengan menngetahui situasi dan kondisi itu mereka mengharapkan dapat memperoleh landasan berfikir untuk melakukan tindak lanjut dalam menghadapi penderitaanya, terutama dalam melakukan penghematan yang cermat.

Guna memenuhi keperluan dan keinginan para penumpang kapalnya itu Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk meneliti keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Setelah beberapa lama burung itu terbang mengamati keadaan air, dan kian kemari mencari makanan, tetapi sia-sia belaka. Burung dara itu hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun (olijf) yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun di patuknya dan dibawanya pulang ke kapal. Atas datangnya kembali burung itu dengan membawa ranting zaitun. Nabi Nuh mengambil kesimpulan bahwa air bah sudah mulai surut, namun seluruh permukaan bumi masih tertutup air, sehingga burung dara itu pun tidak menemukan tempat untuk istirahat demikianlah kabar dan berita itu disampaikan kepada seluruh anggota penumpangnya.

Atas dasar fakta tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai seorang pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) yang pertama kali di dunia. Bahkan sejalan dengan teknik-teknik dan caranya mencari serta menyiarkan kabar (warta berita di zaman sekarang dengan lembaga kantor beritannya). Mereka menunjukan bahwa sesungguhnya kantor berita yang pertama di dunia adalah Kapal Nabi Nuh.

Data selanjutnya diperolah para ahli sejarah negara Romawi pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi (Imam Agung) mencatat segala kejadian penting yang diketahuinya pada annals (papan tulis yang digantungkan di serambi rumahnya). Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.

Pengumuman sejenis itu dilanjutkan oleh Julius Caesar pada zaman kejayaannya. Caesar mengumumkan hasil persidangan senat, berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya, dengan jalan menuliskannya pada papan pengumuman berupa papan tulis pada masa itu. (60 SM) dikenal dengan acta diurna dan diletakkan di Forum Romanum (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Terhadap isi acta diurna tersebut setiap orang boleh membacanya, bahkan juga boleh mengutipnya untuk kemudian disebarluaskan dan dikabarkan ke tempat lain.

Baik hikayat Nabi Nuh menurut keterangan Flavius Josephus maupun munculnya acta diurna belum merupakan suatu penyiaran atau penerbitan sebagai harian, akan tetapi jelas terlihat merupakan gejala awal perkembangan jurnalistik. Dari kejadian tersenut dapat kita ketahui adanya suatu kegiatanyang mempunyai prinsip-prinsip komunikasi massa pada umumnya dan kejuruan jurnalistik pada khususnya. Karena itu tidak heran kalau Nabi Nuh dikenal sebagai wartawan pertama di dunia. Demikian pula acta diurna sebagai cikal bakal lahirnya surat kabar harian.

Seiring kemajuan teknologi informasi maka yang bermula dari laporan harian maka tercetak manjadi surat kabar harian. Dari media cetak berkembang ke media elektronik, dari kemajuan elektronik terciptalah media informasi berupa radio. Tidak cukup dengan radio yang hanya berupa suara muncul pula terobosan baru berupa media audio visual yaitu TV (televisi). Media informasi tidak puas hanya dengan televisi, lahirlah berupa internet, sebagai jaringan yang bebas dan tidak terbatas. Dan sekarang dengan perkembangan teknologi telah melahirkan banyak media (multimedia).

DAFTAR PUSTAKA
Assegaff,
1982, Jurnalistik Masa Kini: Pengantar Ke Praktek Kewartawanan, Jakarta, Ghalia Indonesia.
Muis, A. 1999, Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa, Jakarta: PT. Dharu Annutama.
Kasman, Suf. 2004, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an, Jakarta, Penerbit Teraju
Romli, Asep Syamsul M. 2005, Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan dan Kepenulisan, Bandung, Batic Press
Suhandang, Kustadi. 2004, Penngantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik. Bandung, Penerbit Nuansa.
Sumadiria, AS Haris. 2005, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media.
Palapah dan Syamsudin. 1994, Diktat “Dasar-dasar Jurnalistik”
[1] Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan dan Kepenulisan, Bandung, Batic Press, 2005, hlm. 01.
[2] Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an, Jakarta, Penerbit Teraju, 2004, hlm. 22-23
[3] AS Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2005, hlm. 02
[4] Ibid hal, hlm. 03.
[5] Op.cit, Suf Kasman, hlm. 23-24.
[6] AS Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2005, hlm. 2-3
[7] A. Muis, Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa, Jakarta: PT. Dharu Annutama. 1999, hlm. 24-25
[8] AS Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2005, hlm. 02.
[9] Ibid.
[10] Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an, Jakarta:Penerbit Teraju, 2004, hlm. 23.
[11] Assegaff, Jurnalistik Masa Kini: Pengantar Ke Praktek Kewartawanan, Jakarta:Ghalia Indonesia, 1982, 9-10.
[12] Suhandang, Kustadi., Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik. Bandung:Penerbit Nuansa, 2004, hlm. 25-26.
Dian Amalia Mahasiswa Jurnalistik 2006

Harus sarjana jurnalistik

Harus sarjana jurnalistik? Bukan. Justru hanya segelintir media yang mensyaratkan gelar sarjana jurnalistik saat membuka lowongan kerja bagi wartawan baru.

Oleh Jarar Siahaan; Blog Berita; Balige

Bahkan media sebesar suratkabar Kompas, majalah Tempo, atau stasiun Metro TV tidak pernah menyebutkan syarat sarjana jurnalistik; yang penting sarjana, biasanya S1, dari fakultas apapun. Sebagian besar wartawan media, mulai tingkat reporter hingga redaktur, bukan sarjana jurnalistik. Titel mereka dari berbagai disiplin ilmu, mulai sarjana ekonomi hingga sarjana teknik.

jarar-siahaan 8 syarat menjadi wartawanAku juga sering membaca, antara lain di majalah Pantau — media yang khusus mengulas dunia kewartawanan, yang sayangnya sudah berhenti terbit — bahwa media di negara-negara barat justru tidak terlalu peduli dengan embel-embel sarjana. Media raksasa multi-format, National Geographic [NG], berani membayar puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk satu liputan mendalam yang dikerjakan kontributor — wartawan freelance yang tidak terikat sama sekali dengan NG — tanpa mensyaratkan kontributor harus sarjana; yang penting adalah karyanya, bukan deretan gelar akademisnya.

Berikut adalah delapan syarat menjadi wartawan. Nomor 1 sampai 6 kusarikan dari buku Menggebrak dunia wartawan [1993, Kurniawan Junaedhie] yang kutambah dengan pengalamanku, sedangkan dua poin terakhir, 7 dan 8, adalah murni pendapatku pribadi.

1. Tidak alergi terhadap teknologi. Wartawan zaman sekarang harus fasih memakai email untuk mengirim berita, alat perekam suara, kamera foto atau video, dan mencari referensi lewat Internet.
2. Punya naluri-ingin-tahu yang tinggi dan bukan penakut. Lebih bagus lagi kalau bernaluri sebagai detektif. Wartawan sering diancam karena tulisannya, tapi jangan lantas berhenti menulis.
3. Menguasai bahasa. Tentu saja yang terutama adalah bahasa Indonesia. Aku sering menemukan wartawan yang tidak mampu menulis secara jelas, melainkan berputar-putar dengan “bahasa langit”, bahkan beberapa di antaranya adalah “wartawan senior” yang sudah 20-30 tahun bekerja.
4. Santun dan tahu etika. Aku kerap melihat wartawan yang memaksa masuk ke ruangan pejabat dan langsung duduk padahal si pejabat sebenarnya belum bersedia menerima karena masih ada tamu atau pekerjaannya yang lain. Ada juga wartawan yang mewawancarai narasumber dengan bahasa memaksa, mendesak bagai polisi. Boleh saja meliput peristiwa seperti demo atau lomba tarik tambang dengan memakai celana pendek, tapi jangan berkaus oblong saat meliput sidang pengadilan atau masuk ke kamar kerja gubernur.
5. Disiplin pada waktu. Wartawan tidak boleh menulis berdasarkan mood seperti halnya seniman, karena redaksi dibatasi deadline untuk menerbitkan berita. Sering wartawan-magang gagal diterima karena selalu telat menyetor berita. Bila kau tergantung pada mood, maka pilihlah menjadi wartawan lepas atau bloger.
6. Berwawasan luas. Untuk hal ini, sejak dulu aku sepakat bahwa penulis yang baik harus lebih dulu menjadi pembaca yang baik. Banyak wartawan daerah yang tidak mau membaca media nasional, buku-buku populer, atau mengorek isi Internet; mereka hanya membaca korannya sendiri, itupun cuma untuk melihat “beritaku terbit nggak, nih.”
7. Jujur dan independen. Memangnya ada wartawan yang tidak jujur? Banyak, terutama di daerah. Berita bisa direkayasa sesuai pesanan narasumber. Seratusan orang demo bisa muncul di koran sebagai seribuan orang. Bupati diadukan korupsi, berita yang muncul menjadi “Ada LSM yang ingin membuat rusuh Tobasa.” Memangnya ada wartawan tidak independen? Ini paling banyak, bahkan di Jakarta sekalipun. Harian terbesar Amerika, Washington Post, menetapkan syarat bagi wartawannya: “Lepaskan dulu jabatanmu di parpol, baru bergabung dengan koran ini.” Di Balige, kabupaten lain, Medan, provinsi lain, kujamin banyak wartawan yang aktif di partai politik.
8. Memperlakukan profesi wartawan bukan semata-mata demi uang. Profesi kuli-tinta sering disandingkan dengan seniman. Ia adalah sosok idealis, yang bekerja tidak melulu karena gaji tinggi. Pengacara bisa saja menolak bekerja kalau kliennya tidak mampu membayar tarif sekian rupiah. Aku sering menemukan wartawan yang tidak mau menulis karena narasumbernya tidak memberikan uang seperti diminta si wartawan. “Dia minta dua juta supaya beritanya terbit di halaman satu. Aku tidak punya uang sebanyak itu, ya sudah, mending kukasih Rp100 ribu ke wartawan mingguan, terbit di halaman dalam pun tidak apa-apa,” kata seorang anggota DPRD padaku suatu ketika. Jangan kaget bila pejabat dan pengusaha di daerah sering berkata, “Lae, bayar berapa untuk menerbitkan berita jadi headline?” Dan jangan kaget pula bahwa pertanyaan itu justru ditujukan pada wartawan koran-koran harian beroplah besar.

Dari 12 syarat yang tercantum pada buku Kurniawan Junaedhie, tidak ada satu pun menyinggung titel kesarjanaan. Pada 50 lebih buku jurnalisme yang pernah kubaca, titel sarjana jurnalistik juga tidak pernah disebut sebagai salah satu syarat menjadi wartawan. Mungkin bagi orang awam hal ini akan terdengar ganjil. Tapi begitulah yang terjadi di media pers: Yang dicari adalah orang yang mampu menulis, bukan orang yang pernah kuliah jurnalisme.

Jadi, kalau kau adalah seorang sarjana yang baru tamat tapi bukan dari program jurnalistik, kau tetap punya peluang besar jadi wartawan. Lihatlah lowongan di media-media lokal maupun nasional. Bahkan bila kau bukan sarjana, kau pun tetap bisa jadi wartawan, walaupun peluangnya lebih kecil. Pengalaman pribadiku di bawah ini mungkin bisa memberimu semangat dan inspirasi.

Pada 1999 aku memasukkan lamaran ke harian Medan Ekspres — kini bernama Sumut Pos — koran milik Jawa Pos. Aku tahu koran itu mensyaratkan sarjana, tapi aku nekat. Sekretaris redaksi yang menerima berkas lamaranku berkata, “Nanti kusampaikan, bang, tapi sebenarnya harus sarjana, lho.” Kujawab: “Aku tahu. Tapi sampaikan saja dulu sama Pemred.”

Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan pemimpin redaksinya, Abdul Haris Nasution — kalau aku tidak lupa namanya — yang pernah bekerja di majalah Tempo. Sore itu, di kantor redaksi, dia membuka-buka berkas lamaranku. Dia memelototi sejumlah contoh beritaku yang pernah terbit di koran-koran tempatku bekerja sejak 1995. “Ini foto-foto jepretanmu sendiri?” katanya, menunjuk beberapa gambar bentrok Brimob dengan warga Balige yang demo menolak PT Indorayon; antara lain foto seorang Brimob sedang mengarahkan senjata pada seorang warga yang berlindung di balik papan di depan kedainya, dan foto warga lain yang jemarinya putus ditembak Brimob.

“Benar, fotoku sendiri,” jawabku.

“Kami pakai dulu foto ini, ya,” katanya lagi, lalu memanggil tiga orang redaktur, yaitu Syaiful Ishak [kini petinggi di kantor Graha Pena Medan], Yulhasni, dan satu lagi aku tidak ingat. “Bagaimana anak ini menurut kalian? Aku suka, aku ingin dia bekerja di koran kita. Tapi dia bukan sarjana,” kata Nasution.

Akhirnya aku diterima, dengan syarat: Aku harus mengirim minimal tiga berita setiap hari dari Balige, dan beritaku harus layak jadi berita utama di halaman daerah, bahkan aku mesti berusaha menembus halaman satu. Enam bulan masa magang berlalu, aku lolos. Bahkan tidak lama kemudian, pemred berikutnya, Choking Susilo Shakeh, mempromosikanku menjadi redaktur.

Terkadang, pada minggu-minggu pertama, aku merasa minder dan “tidak nyaman” di kantor karena kawan-kawanku redaktur adalah sarjana. Tapi mereka teman-teman yang baik dan peduli. Singkat cerita, kemudian aku harus mengundurkan diri dari jabatan redaktur karena pindah domisili ke Palembang. Setelah itu aku bekerja di beberapa koran, majalah, dan menjadi stringer untuk Biro Foto Antara, sebelum mengundurkan diri dari koran terakhir, Harian Global, lalu pada Maret 2007 menjadi penulis web mengelola Blog Berita ini.

“Tunjukkan pada dunia APA yang bisa kaulakukan, bukan SIAPA kau.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.